LASKAR HIDAYAH


Langkah gontai mengawali hatiku di pertengahan bulan Juli kali ini. Menjadi penduduk baru di dunia putih abu – abu seperti neraka bertamankan bunga kesenangan belaka bagiku. Tidak ada kehormatan bagi para siswi di sini, jilbab d jadikan hiasan tak berarti, sentuhan tangan antar jenis sudah jadi tradisi, pacaran seperti sebuah keharusan bagi para pegengsi. Inilah pilihanku. SMAN 1 Cijeruk, Serang,Banten .

“Shanaz, aku mau bicara sama kamu. “ baru saja langkah ini tiba di depan kelas, seorang menarik lenganku tanpa izin dan membawaku kepada hamparan rerumputan belakang sekolah.  Taman.

“apa? “,tanyaku kapada seorang siswi dengan perawakan ideal di hadapanku. Ia terlihat cantik dengan kulit putih langsat, bola mata biru jernih, bibir tipis merah muda. Tapi sayang, ia tidak berjilbab syar’i, hanya kain tipis yang membalut kepalanya dengan tatanan persis anak negri jaman sekarang.

“Gini loh Shanaz, akukan teman kamu, dan aku gak mau kena masalah. Jadi aku mohon..... inikan sekolah negri, taatin ya aturan berjilbabnya. Betnya dilihatin, aku takut nanti waktu apel terus ada pengecekan kelengkapan dan kerapian kamu kena sebagai pelanggar.  Kita masih murid baru Shanaz. Jangan bikin masalah ya.. “ dengan muka khawatir Salysa berbicara panjang lebar hal nya ia sangat menyayangiku. “ tapi.. “ ,

“iya … aku tahu kamu mantan santri Shanaz, aku… “ kata Salysa.

“stop Salysa! , aku nggak suka dengan kata- katamu yang menyinggung bahwa aku manta santri. Ingat baik- baik, seseorang yang menjadi santri ia akan selamanya santri! Nggak ada yang namanya `mantan`. Dan untuk urusan jilbab ini, aku siap terima resiko apapun, maaf… “. Aku pun meninggalkan Salysa, teman SD ku yang dipertemukan kembali oleh Allah disini dengan perasaan campur aduk. Marah, kecewa, sakit hati, sedih semua menjadi satu. Rasanya aku benar- benar menyesal dengan keputusanku. Kenapa aku baru memikirkannya saat ini.


Flash back on

“ oh ya kak Shanaz, nanti mau lanjut SMA dimana nak?, udah kelas Sembilan loh.. bentar lagi lulus.” Tanya umi saat perpulangan rutin SMPIT La Tahzan tiba.

“hmm… di sekolah negri gimana ya mi? masa dari Paud sampai SMP aku di IT terus, kan bosan.” Kataku

“aku nggak yakin kamu bisa istiqomah naz, tantangannya besar loh kalau di sekolah negri.” Tutur kakakku asal, “eh, meremehkan ya.. oke, lihat saja nanti, Shanaz akan menjadi orang yang mewarnai bukan diwarnai.” Ucapku mantap.

Flash back off

“Bagi seluruh siswa- siswi SMAN 1 Cijeruk diharapkan untuk berkumpul di lapangan saat ini juga utnuk melaksanakan apel!” pengumuman yang dilancarkan lewat toa itu membawaku kepada kesadaran alam mimpi. Ya, aku baru saja tertidur pulas bersandarkan meja di kelas secara tidak sengaja. Tangisan itu membuat aku lelah, setiap kenyataan membuat aku jengah.

“eh… udah lengkap belum lo?”
“weh… gue gak bawa dasi nih.”
“sepatu gue gak full back nih gaes.”
“mampus lu… “
“whahahaha…”

Bincang bincang para siswa terdengar hingga telingaku dalam perjalanan menuju lapangan. Kemudian aku teringat dengan perkataan Salysa tadi, bagaimana jika aku dipanggil guru BK karena jilbabku menutupi bet?. Bagaimana jika aku diskors dan selanjutnya dipaksa menggunakan jilbab pendek yang selama ini aku anggap hina? Oh ya rabb, bantu aku..

“yang saya hormati guru- guru beserta staf SMAN 1 Cijeruk dan yang saya sayangi siswa siswi SMAN 1 Cijeruk. Disini saya sebagai Kepala Sekolah dan suri tauladan, sangat bangga dengan kalian semua. Sungguh… “ dalam sesi pidato yang disampaikan Pak Jalal itu, tak ahenti- hentinya mulut ini memohon kepada Dzat Yang Maha Kuasa untuk keselamatan diri dari introgasi guru BK pada hari ini. Apa kata kak Afisa nanti kalau dia tahu aku kena masalah di sekolah? Gimana perasaan umi dan abi? aku sungguh malu nanti.

Akhirnya aku bisa bernafas lega karena tidak ada pengecekan, yang ada hanyalah pidato singkat yang berisikan motivasi untuk para siswa baru dan salaman kepada para guru. Salaman? Oh.. bagaimana ini? Saat aku sampai pada guru laki- laki aku baru teringat bahwa bagaimanapun beliau tidak mahram bersentuhan dengan ku. “ayo, lama sekali kamu..” guru itu berucap dan memecah kebingunganku dalam berpikir dengan tangan terulur. “ saya mohon maaf pak tidak bisa bersalaman dengan bapak.” Jawabku ragu dengan kepala tertunduk.

“lalu kenapa?” ada yang salah dengan tangan saya?” rautnya terlihat tidak suka dengan pernyataanku.
“eh.. ehm.. bapak laki- laki tidak mahram bersentuhan dengan saya. Maaf sekali lagi.” Ucapku masih dengan kepala tertunduk. Sungguh mata ini tak sanggup menatapnya ya Rabb.. aku menyakiti perasaan seorang guru. Hening, beberapa detik kemudian guru yang aku tahu bernama pak Hendra itu berucap “ baiklah, lebih baik kamu keluar barisan, karena yang akan kamu salami untuk selanjutnya adalah guru laki- laki semua. Saya tidak mau kamu membuat para guru marah atas perkataanmu dan kelakuanmu yang tidak beretika itu. Oh ya.. satu lagi, kamu temui saya di kantor setelah jam istirahat nanti.” Tutur pak Hendra dengan tenang. Tetapi nada bicaranya terlihat tegas dan menekan. Deg… seketika itu hatiku berdesir. Rasanya ada batu besar yang menghantam kepalaku, sakit..


Bersambung…..



Tentang Penulis
Penulis adalah Safrida Aulia Mardianah, sering menggunakan nama pena Alkaiz Zakra. Berasal dari Serang, Banten yang memutuskan untuk bersekolah di SMPIT Hidayah Klaten program boarding. Saat ini penulis duduk di bangku kelas IX D. Hobby penulis adalah menulis cerita , membaca novel, dan menonton film. penulis bercita- cita menjadi seorang motivator dan menulis yang bisa memberikan banyak manfaat kepada khalayak.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "LASKAR HIDAYAH"

Posting Komentar