Catatan Perjalanan Malam 1 Muharram 1439 H

Malam itu agaknya dingin tidak terlalu menusuk kulit saat kami membangunkan murid murid kami, pada dini hari tepat malam satu muharram. Waktu menunjukkan pukul 01.15 menit. Waktu yang sangat pas untuk meringkuk ditempat tidur, sambil menarik selimut, pulas hingga pagi.

Tapi tidak untuk malam ini. Sengaja kami atur acaranya begini. Anak- anak (sapaan yang menandakan cintanya kami kepada murid) hari itu, rabu pagi pukul 10.00 sudah kami perbolehkan pulang. Tidak seperti biasanya perpulangan lepas ashar. "Nanti," kata kami berpesan kepada mereka menjelang pulang "kalian harus sudah kembali ke sekolah, maksimal shalat magrib sudah jamaah disini. Memakai seragam coklat jsit" Mereka pun mengiyakan.

Acaranya memang sederhana, hanya tilawah sebentar, makan hingga isya, lalu nobar film sejarah G30S/PKI. Sengaja kami putarkan untuk mengajari mereka tentang suatu masa kelam yang pernah terjadi pada bangsa ini, dulu. Acara ini pun baru selesai hampir 3 jam.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, anak anak kami minta untuk istirahat. Jam satu dini hari, kami bangunkan mereka. Lima belas menit sesudahnya, mereka sudah berbaris rapi sesuai kelompok yang telah kami bacakan kepada mereka.

Setiap kelompok terdiri sekitar 8 orang dengan satu guru pendamping. Baik putra maupun putri, agaknya semua telah siap dengan kelompoknya masing masing. Malam ini kami akan menembus gelap, berjalan menyusuri tak seberapa dari bumi ini. Esok pagi kami baru akan tiba di sekolah, setelah matahari menanjak sedikit menyengat.

Kami sudah berpesan kepada anak anak, bahwa malam ini, bisa jadi perjalanan akan sedikit melelahkan. Menembus gulita, menyibak dingin, bertarung dengan kelelahan. Itu sebabnya, kami persilakan mereka membawa jaket, senter, makanan atau sesuatu yang dapat membantu mereka dalam perjalanan. Tentu saja, apa yang harus dibawa harus seizin kami.

Ah iya, satu lagi yang terlewat. Ini tentang para orangtua. Rupa rupanya mereka khawatir tentang putra putrinya. Menempuh 15km dengan berjalan kaki bukan jarak yang amat singkat dan mudahh dibayangkan, terlebih di malam hari. Itulah, saat magrib banyak orangtua murid yang berpesan, mewanti wanti "ust, saya titip anak saya ya.... Semoga lancar acaranya." Ada lagi orangtua yang lain "Ust, jauh sekali jaraknya..... " Katanya seperti gagal menyembunyikan kekhawatiran. Nampak benar dari nadanya berbicara. Kami pun hanya tersenyum sambil meminta doa agar semuanya baik baik saja. Ada lagi, "ust, anak saya punya asma. Kalau lelah mudah kambuh, terlebih jika kedinginan.. " . Dua wali yang berpesan begitu. Kami jawab jika benar adanya, akan kami persilakan anaknya untuk istirahat saja disekolah, tidak perlu ikut perjalanan. Legalah hati orangtua tersebut. dipenghujung pesannya, ia mengucapkan banyak sekali terima kasih.

Kami mencari anak yang mempunyai asma. Ketemu, ada dua anak. Kami tawari bahwa perjalanan malam ini akan membutuhkan banyak tenaga. Hasilnya, "saya istirahat di sekolah saja ust.." kata salah satu anak. Sepertinya ia sudah mengukur benar kekuatannya tidak terlalu cukup untuk melalui semuanya malam ini.

"Saya ust," kata sang anak satunya lagi, "saya tetap ikut. Insya allah saya kuat meski saya punya asma." tegasnya. Kata katanya kuat, tiada ragu. Tapi kami tawarkan lagi untuk istirahat saja di sekolah. Hingga tiga kali, sang anak tetap keukeh pada tekadnya. Kami berbinar, sambil berbisik dalam hati, semoga saat ia menggapai citanya kelak, seteguh pula pendiriannya seperti malam ini.

jam satu tiga puluh dini hari.

Seluruh guru sudah siap. Ada yang mengawal regu, ada yang bagian belakang, tim penyisir, dan beberapa dari guru ada yang mengendarai sepeda motor. jumlahnya tidak banyak, hanya satu dua. Barangkali, ditengah perjalanan nanti, ada siswa yang membutuhkan kaki tambahan untuk terus mengayunkan langkah.

Diawali doa dan nasehat adab selama dalam perjalanan, satu persatu regu mulai mengawali langkah menembus malam. Dimulai dari regu putra. Regu satu berjalan, regu dua, regu tiga, disusul regu empat, lima, enam, tujuh dan seterusnya sampai beberapa jarak, regu putri juga menyusul. Mengawali langkah dari regu satu, regu dua, tiga, empat hingga akhir.

Yang semula mengantuk sudah pudar dan kembali terjaga. Justru kini riuh disepanjang jalan. Langit sunyi pecah oleh banyak suara. Dua burung malam tetiba terbang entah kemana. Dipikirnya, kami telah mengetahui persembunyiannya. Bahkan, seekor katak yang tengah mengejar mangsanya juga ikut berhenti saat langkah kami menyibak dan menghentikan langkahnya. Sepertinya katak itu tak mau ambil resiko dengan mengejar mangsanya yang lari kearah kami. Ia tak mau ambil resiko. Biarlah ia kehilangan mangsanya malam ini. Dari pada ia kejar, bisa bisa, malah dirinya yang habis terinjak.

Sang katak terdiam, sambil memandang dengan geram barisan parade kami, lantas ia mundur,  berbalik arah dan menjauh dari kami.

Tak jauh dari sang katak, seekor ular juga buru buru pergi melarikan diri setelah melihat barisan kami paling belakang membawa lampu panjang merah seperti yang dibawa oleh juru parkir jika malam hari. Ular itu mengira kami membawa senjata tajam semacam pedang, padahal hanya lampu. Ia masih ingat betul dengan ular sekandungnya yang mencoba membelit petani bulan lalu ditengah sawah. Sayangnya petani yang membawa arit dipinggangnya itu bukanlah mangsa yang baik, Orang dengan sebuah senjata di pinggang terlalulah berbahaya untuk diserang. Ular itu tidak pernah lupa pada sebuah peristiwa mengerikan yang menimpa ular sekandungnya. Bermaksud meringkus manusia malah lampus saat mencoba membelitnya. Sang korban menikam bagian perut hingga robek. Darah ular berceceran. Mati tiada daya. Lalu pergilah sang ular.

Malam merangkak, kami terus berjalan memasuki jalanan beraspal. Menyebrang lurus melewati perempatan pasar ngupit. Disebelahnya, bangunan pasar sedang dibangun nampak jauh dari kata selesai. pasarnya sunyi, mungkin para pedagang masih dalam perjalanan menuju kesini. di dalam barisan kami, beberapa dari anak terkadang berhenti membetulkan tali sepatu yang kendor. ada juga anak putri yang terlihat merapikan jilbabnya, menyeka keringat yang mulai bercucuran. Keringat sebesar bulir jagung, tapi banyak bermunculan. Dibagian agak depan, ada anak yang berlari, bukan mengejar ketertinggalan, tapi mempercepat langkah. Begitu agak jauh dari regunya, ia segera menepi, berhenti, berjongkok, lalu mengeluarkan botol minum dari dalam tasnya. Glek... Glek.. glek... terdengar suara saat ia meminumnya. seakan- akan haus luar biasa. 

Sesekali, truk lewat dengan kecepatan tinggi. Begitu kami beri isyarat, barulah mereka melambat. Sambil kami sapa, "maaf pak, tolong kecepatannya dikurangi."

Jalan kali ini bukan aspal. Tapi semen cor yang panjangnya entah sampai mana. Usai dari pom bensin ngupit, kami belok kiri begitu menemukan  pertigaan. Kali ini, sepanjang jalan yang kami lewati hanyalah sawah sawah. Harum bau tanah, semilir angin, dingin yang mengalir, serta bayangan pohon pohon, membuat nyaman hati kami. Ada ketenangan yang menyelinap. damai rasanya.

saat menyusuri jauhnya jalan ini. diujung jalan menjelang perkampungan, kami beristirahat sejenak. Mengatur nafas yang mulai memburu. Mengisi energi dengan beberapa roti yang telah dibawa. Kami lihat tiap- tiap anggota regu membawa makanan. Mereka saling berbagi, mencoba makanan temannya, begitu sebaliknya. Sambil duduk dipinggir jalan, mereka saling bercerita ria.

Sayup sayup pula kami dengar, dari pembicaraan mereka, ada yang berseru pelan "bintangnya bagus ya... Banyak, elok nan cantik.". Lalu ditanggapi sebelahnya "itu lihat, seperti ada sungai dilangit. .. " . Ah nak, maka nikmat tuhanmu yang manakah yang akan engkau dustakan?

Usai 15 menit dari waktu kami istirahat. Sebentar lagi kami memasuki perkampungan. Desa gatak namanya. Sebelum memasuki perkmapungan kami sudah berpesan ke anak anak tentang adab melewati penduduk. Mereka sedang istirahat  jadi saat lewat harus tenang.

Tapi.... Barulah 10 menit berjalan, anak anak sudah minta istirahat lagi. Kami berada ditengah perkampungan. Beberapa pintu rumah warga tiba tiba terbuka, keluar pemiliknya, dan melihat kami dengan teliti. Sepertinya ia terganggu dengan keriuhan anak anak. Maafkan kami ya pak....


Pukul dua tiga puluh dini hari

Kami melanjutkan perjalanan. Sekitar satu jam lagi kami akan sampai di masjid singgah. Pelan- pelan kami menenun langkah. Mengayuh asa untuk segera sampai di tempat singgah. Sebagian lagi, ada yang berlari penuh semangat. Rerata anak putra yang melakukannya. Saat ada temannya yang menyalip, yang disalip pun tak terima. Ia kejar hingga di depannya. Yang tadi menyalip merasa lagi disalip. Alhasil, saling kejar kejaran. Sambil bersorak "tunggu.... !!" . Selalu saja begitu.

Di bagian baris paling belakang, agaknya sudah ada yang mulai berguguran. Sejanak menepi, mengeluarkan botol minum, dan minum tak terkendali. Haus benar sepertinya. Seorang ustadzah yang naik motor  menawarinya untuk ikut dengannya. Tapi ia menolak, "saya titip tas saja us... " Kata sang anak.

Waktu belumlah pukul empat. Tapi kami sudah sampai di masjid singgah. Jadi, sebelum subuh datang kami telah sampai terlebih dahulu. Jeda menunggu azan subuh banyak mereka gunakan untuk rehat. Selonjoran, menyandar di dinding., melepas sepatu, ada pula yang langsung meringkuk saat takmir masjid menggelar tikar di teras halaman masjid. Berduyun duyun mereka berebut tempat. Pak takmir sempat mengingatkan agar tidak berebut. Karena tikar masih banyak.

Ada dua masjid yang dijadikan tempat singgah. Yang satu untuk istirahat putra dan satunya lagi untuk singgah anak putri. Jarak kedua masjid tak terpaut jauh, hanya 50 meter kira kira. Didua masjid itu, kami menunaikan shalat subuh. Menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba kepada tuannya. Puja puji kami lantunkan atas seluruh anugrah yang kami terima. Memanjatkan syukur kepada Allah swt. Raja segenap semesta. sang pemilik tahta jagad raya. Membentang dari negri ujung timur hingga ujung tenggelamnya sang surya. Sang pemberi penghidupan. Pelindung orang- orang miskin. Mengasihi mereka yang berbudi.

Usai shalat, Duduk berselampang kami, Bersila takzim tangan bersalam memberi hormat kepada takmjr masjid dan segenap warga yang hadir. Sang takmir, Terang wajahnya, belum juga terlalu tua, berwatak tegas lagi seorang pengayom. Luhur memuliakan tamu. Kami disuguhi teh hangat, bubur dengan lauk tahu besar ditengahnya. Lahap semua memakannya, tanpa sisa. Apapun, jika lapar semua akan terasa nikmat adanya. Setelahnya, Berceritalah kami tentang perjalanan yang sedang kami tempuh. Kira kira tiga jam lagi, kami akan sampai di rumah. Sekalian kami pamit untuk meneruskan langkah.

Pagi menyingsing, telah ramai jalanan dengan orang- orang berlalu lalang. Memancarlah bagaskara dalam pangkuan bumi, mengeringkan daun embun yang basah, menyuburkan sawah- sawah. Sinar kemuning jatuh diantara pohon- pohon ; pohon waru, pohon munggur. pohon beringin, akarnya menjulur hingga bawah, menyentuh air sungai. Anak kecil dari pedukuhan seringlah bermain- main. Menaiki akar gantung, lalu loncat sejadi- jadinya.  Berderetlah pohon besar lagi tinggi. Menyaring matahari, tetapi masih terang gemilang. Berkicau para bangsa burung. Terbang mencari penghidupan. Burung gereja mencari makan diantara padi di sawah. Burung blekok juga tampak disana. Burung lain yang tidak bisa terbang, harus pasrah dengan takdir. sebangsa bebek, angsa dipelihara oleh manusia. Diberi jatah makanan semalam yang sudah basi.

Udara pagi mengalir begitu sejuk. Berderap langkah kami menyusuri jalanan ramai. Kanan kiri kami hanya sawah hijau meski hari ini masih masuk musim kemarau. Dalam derap langkah kami, diiringi pula teriakan yel yel sehika jaya yang khas itu. Dengan tangan mengepal memukul langit dan berseru lantang. Sesekali, kami juga bertakbir.

Telah usai perjalanan kami. Pukul tujuh pagi. Saat mentari mulai menyengat pelan. Harapan besar dengan kegiatan ini, adalah meneladari spirit kenabian pada peristiwa hijrah dulu. Saat nabi dan para sahabat hijrah dari meekah menuju madinah. Semua mereka lakukan hanya untuk allah dan rasulnya. Selain itu, semangat ini semoga memberi nilai kepada mereka, bahwa saat mendaki cita cita nanti, akan ada banyak aral rintang yang menghadang, tapi tak menyurutkan langkah merek untuk menggapainya. Seberat apapun itu, pasti ada jalan jika terus berusaha dan tak mudah untuk menyerah.


*Tulisan ini dibuat dua hari usai dari perjalanan. Saat langit tengah mendung dan hujan luruh untuk pertama kalinya setelah kemarau panjang di langit bumi bersinar. Di rumah kami, yang tak jauh dari kampung jonggrangan. Tempat bersemayamnya roro jonggrang dalam sebuah legenda.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Catatan Perjalanan Malam 1 Muharram 1439 H"

Posting Komentar